Senin, 05 October 2009 18:36
Hujan Buatan, Tim BPPT Tebar Garam
Hujan Buatan, Tim BPPT Tebar Garam
Print E-mail
Boed - klikp21.com   

PALEMBANG – Rencana pelaksanaan hujan buatan yang semula dijadwalkan 6-7 Oktober dipercepat. Kemarin (4/10/2009), Dinas Kehutanan (Dishut) Sumatera Selatan dengan Pesawat Cassa 212-200 milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mulai membuat hujan buatan. Tahap pertama, dilakukan di atas kawasan Cengal, Kabupaten OKI. Tim BPPT menanam  sekitar 600 kg super fine NaCL (garam) powder ke beberapa titik awan Cumulus yang berpotensi hujan. Sebelum berangkat, sempat dilakukan breefing. Pelaksanaan hujan buatan ini berkoordinasi pula dengan TNI AU Palembang.

Danlanud Lektol Pnb Asril Samani sempat memberikan pengarahan kepada tim.Kadishut Sumsel, Ir Sigit Wibowo mengatakan, pelaksanaan hujan buatan itu untuk mengurangi kabut asap yang menyerang Palembang beberapa waktu terakhir. “Kita minta bantuan ke BPPT dan alhamdulillah hari ini (kemarin) sudah bisa dilaksanakan. Rencananya akan dilakukan selama lima hari ke depan,” jelas Sigit.

Untuk lokasi hujan buatan, tambah dia, diserahkan kepada BPPT. Sebab, mereka secara teknis lebih mengetahui. “Tim BPPT dibantu sejumlah staf. Namun, UPTD Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (PKHL) Sumsel yang menyediakan data dan persebaran hot spot di Sumsel.”

Lanjut Sigit, sebelum pelaksanaan hujan buatan, telah dilakukan survei oleh BPPT bersama Dishut Sumsel dan OKI. Hujan buatan fokus pada daerah dengan hot spot tinggi, seperti OKI, Ogan Ilir, dan Banyuasin. “Kita berharap semuanya bisa kebagian hujan buatan ini. Biar tidak ada lagi hot spot, utamanya di lahan gambut yang menyebabkan kebakaran lahan dan hutan.”

Pesawat Cassa 212-200, take off dari Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, tepatnya dari belakang base off TNI AU Palembang sekitar pukul 13.30 WIB. Duo pilot yang menerbangkan pesawat itu, Suyanto dan Bambang Waluyo dari Nusantara Buana Air (NBA).

Mengitari wilayah Palembang dan sekitarnya pada ketinggian 7000 feet (kaki), seperti OI dan OKI selama 1,5 jam. Dan baru turun kembali pukul 15.00 WIB. “Awan cumulus-nya agak kurang. Ada, tapi tipis. Yang ditemukan tadi di atas wilayah OKI, sekitar Cengal,” ungkap salah Erwin Mulyana, salah seorang tim ahli BBPT yang ikut terbang.

Hasil pantauan kemarin, uap air cukup banyak di udara Palembang. Hanya, kondisinya kurang terangkat ke atas karena minimnya radiasi dari sinar matahari. Pada ketinggian 3.000 feet ada, sama seperti di ketinggian 15 ribu feet. Jenis alto cumulus. Di antaranya kosong, walau ada namun ukurannya kecil-kecil. “Untuk asap ada sedikit, begitu juga hot spot,”tuturnya.

Erwin menambahkan, pada 3 Oktober lalu, hanya terpantau tiga hot spot. Satu di wilayah OI dan dua di OKI. Namun, hasil pantauan ini terkadang berbeda dengan kondisi di lapangan. Pasalnya, hot spot di lahan gambut sangat sulit dipadamkan. “Bisa jadi memang tidak kelihatan di atasnya, tapi di bawah terus membakar. Nah, dengan hujan buatan ini mudah-mudahan bisa ikut padam. Setidaknya, untuk pelaksanaan lomba triatlon mulai 10 Oktober nanti kita tidak diserang asap lagi,”imbuh Sigit.

Kepala UPT Hujan Buatan BPPT, Ir Samsul Bahri MSc menjelaskan, pada dasarnya hujan buatan ini menaburkan serbuk garam (NaCl) yang sangat halus ke dalam awan yang potensial ‘hujan’. NaCl akan bereaksi dengan partikel udara di awan tersebut sehingga terjadilah hujan buatan.

Awan ‘matang’ yang dicari mempunyai ciri khas lingkaran kelilingnya terlihat jelas. Biasanya, awal jenis cumulus ini berada pada ketinggian sekitar 13 ribu kaki. “Jika tidak kita temukan di ketinggian itu, kita akan turun perlahan. Mungkin saja ada di ketinggian dibawahnya.”

Reaksi NaCl yang ditembakkan ke awan beragam. Tergantung umur awannya. Untuk yang sudah ‘matang’ bisa sekitar 20-30 menit, tapi dapat pula lebih dari satu jam. Kemarin, penyebaran serbuk NaCl dilakukan hanya sekali. Rencananya, hari ini  dilakukan dua kali hujan buatan.

Kabid Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan BPPT, DR Ir Mahally Kudsy MSc menambahkan, biaya hujan buatan ini cukup mahal. “Untuk satu hari bisa sekitar Rp100 juta,” katanya.

Setidaknya, ada tiga faktor yang memengaruhi biaya pembuatan hujan buatan. Yakni biaya operasional pesawat, bahan semai (super fine NaCl powder) dan personel. Biaya pesawat menjadi variable cost yang berubah-ubah sesuai berapa kali terbang melakukan penyemaian awan. “Rincian biayanya memang telah diatur dalam PP No 30/2008. Berkisar Rp50 juta hingga Rp100 juta,” imbuh Mahally.

Terpisah, Kasi PKHL Dishut Sumsel, Hasanuddin SHut mengatakan, hasil pantauan satelit Terra/Modis menunjukkan, kondisi cuaca kemarin 80 persen berpotensi hujan. Untuk hari ini, potensi hujan masih 80 persen, lusa turun menjadi 60 persen. Dua hari mendatang turun lagi jadi 30 persen dan turun lagi menjadi 20 persen. “Untuk  hot spot ada kalanya tidak terlihat, karena mungkin pencitraan satelit tertutup awan. Pastinya, kita terus pantau kondisi di lapangan,” pungkasnya


www.klikp21.com@2009 | Best Viewer By Mozilla Firefox

Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Heri di heri@staff.klikp21.com,
Telp 021 55782519
 

Banner