Banner
Selasa, 07 Juli 2009 02:50
IMOCA
Bisnis CP Yang Menggiurkan
Print E-mail
M. Gunawan Abdillah - klikp21.com   

Ketua Indonesia Mobile & Online Content Association (IMOCA), A. Haryawirasma, MOBETRIX bertanya banyak hal tentang seluk beluk bisnis content provider (CP). Ternyata, meski mengalami stagnasi gara-gara CP nakal, bisnis CP tertolong oleh ringback tone (RBT). Lalu ada apa dengan 'notifikasi billing'? Sebagai Ketua IMOCA, Rasmo tentu memiliki perusahaan content provider. Ia merupakan President Director PT Buana Media Teknlogi (BMT), content provider yang punya spesialisasi pada penanganan pembayaran secara online (e-payment solution). Dengan kata lain, BMT bisa disebut sebagai 'Paypal-nya Indonesia' untuk beberapa klien. Selain itu, BMT menjalankan penjualan voucher secara online melalui situs gudangvoucher.com dan gudangdiscount.com.

Mengenai notifikasi billing, pria yang akrab disapa Rasmo ini, mengungkapkan sedang marak. Pasalnya, selain memberikan kemudan bagi pelanggan, perusahaan yang memberikan pilihan pembayaran secara online akan tampak bonafid. “Berkembangnya teknologi, orang tentu malas mengantri lama-lama ketika melakukan pembayaran. Bisa membayar lewat ATM atau online langsung via internet, tentu pelanggan lebih suka dan itu menjadi nilai lebih bagi perusahaan leasing misalnya,” ungkap Rasmo seraya menyebut FIF dan portal Import sebagai dua di antara kliennya. Lalu mengapa BMT tidak main RBT?

Ditemui di kantornya yang berada di kawasan Radio Dalam, Kebayoran, Rasmo mengungkapkan, RBT sudah banyak pemain. "Meski masih ada ruang, kita lebih memilih berbisnis di bidang yang sangat kita pahami seluk-beluknya."

Menurut dia, RBT merupakan primadona saat ini bagi content provider dan operator telco. "Bisa dikatakan, RBT menguasai 50% pendapatan operator sektor value added service atau VAS. Angka ini sepertinya akan bertahan, karena ternyata orang Indonesia menyukai RBT seperti halnya ringtone," katanya (silahkan cek rubrik Hot Isue selengkapnya tentang RBT).

Berkat RBT, lanjut dia, content-content tidak bermutu sehubungan dengan pola kuis yang marak 2 tahun silam langsung redup dan tidak lagi jadi trend. "Memang trend kuis SMS dengan nomor premium bisa anjlok disebabkan banyak hal, tetapi yang pasti, content provider yang sebelumnya terpukul karena kuis tak lagi jadi primadona, ramai-ramai main di RBT dan terbukti memang menguntungkan," ungkapnya.

Perlu diketahui, kuis dengan nomor premium yang kerap mengiming-imingi hadiah besar, 'terpukul' setelah diprotes sejumlah elemen masyarakat. Selain itu, banyaknya kebohongan dan nakalnya provider menyebabkan pemerintah mengeluarkan 'palu godam' pada sejumlah provider (setidaknya ada empat).

Ganti Kulit
Provider-provider itu ada yang 'ganti kulit' dan menjalankan bisnis content dengan pola baru, tetapi tidak sedikit pula yang gulung tikar. Penyebab bangkrut, kata Rasmo, ada yang disengaja. "Bisnis content provider inikan menggoda investor asing. Dalam setahun mereka untung, biasanya langsung tutup. Ada juga yang setahun tutup karena memang modalnya 'cekak', sedangkan kreativitas minim," jelasnya.

Bisnis provider konten memang tidak membutuhkan banyak dana. Tenaga kerja pun tak perlu ramai. Jika ingin serius dengan perangkat mantap, setidaknya dibutuhkan dana Rp 1 miliar. Itu sudah termasuk operasional untuk satu tahun.

Dengan modal yang tidak terlalu besar, keuntungan bisa didapat dengan cepat. "Kuncinya adalah dengan kreativitas. Modal sebesar apapun kalau yang ditawarkan hanya ikut-ikutan, ya sulit bertahan lama."

Rasmo mengakui, pendapatan provider konten untuk media ponsel mengalami stagnasi begitu memasuki tahun 2008. Penyebabnya adalah provider nakal yang menawarkan program undian atau layanan informasi bersifat hiburan. Sayangnya, kuis dengan iming-iming hadiah itu kerap tidak sesuai, sementara layanan informasi malah 'memakan' banyak pulsa users. Ketika pelanggan ingin berhenti berlangganan, sulitnya minta ampun.

"Tapi saya yakin stagnasi itu bersifat sementara. Masyarakat kini semakin tahu bahwa jangan sembarangan menggunakan atau berlangganan layanan tertentu yang ditawarkan provider. Cukup yang dibutuhkan dan berguna saja. Stagnasi juga membuat provider harus kreatif jika ingin tetap bertahan. Dengan kata lain, stagnasi membuat bisnis konten mengalami perubahan paradigma," paparnya.

Perubahan paradigma itu, lanjut dia, bisa dilihat dari materi konten yang makin tersegmentasi dan tidak lagi seputar entertainment. Selain itu, pasar daerah belum tergarap. "Provider yang ada sekarang ini terpusat di Jakarta, sementara konten lokal di daerah masih belum ada. Sementara pengguna ponsel kan tidak berpusat di Jakarta," imbuh Rasmo yang juga punya peran di Indonet, provider internet.

Perubahan paradigma juga menyangkut aktivasi dan deaktivasi pola langganan. "Kalau dulu sangat susah berhenti langganan gara-gara provider nakal. Pengawasan ketat yang dilakukan pemerintah, mengakibatkan operator bersikap tegas pada provider. Operator bisa memberikan penalti terhadap provider yang 'ngerjain' pelanggan. Permintaan deaktivasi kan diketahui operator dan provider yang bersangkutan."

Selain perlu mengingat keyword ketika daftar untuk berlangganan, menurut ia, langkah lain cukup mengetik 'stop' ke nomor pendek yang biasa digunakan juga bisa dilakukan untuk berhenti langganan. "Tidak jamannya lagi main akal-akalan. Pola seperti itu, terbukti membuat bisnis konten mengalami stagnasi," tegasnya.

Ditanya mengenai kontrol yang dilakukan Imoca sebagai asosiasi, Rasmo mengakui, kontrol itu hanya dilakukan terhadap provider yang menjadi anggota. Saat ini, anggota Imoca sekitar 64 provider. Jumlah itu, menurut dia, jauh lebih sedikit dibandingkan provider yang tidak menjadi anggota. "Kita tidak bisa melarang. Paling ketika tahu ada yang nakal, cukup bilang ke operator. Pintunya kan ada di operator," tukasnya.

Kalau operator sudah menutup pintu, maka alamat kiamat bagi provider yang bersangkutan. Setahu tahu, ujar dia, operator telah melakukan pengetatan. Meski untuk memperoleh ‘short number’ tidak dikenakan biaya, operator menetapkan sejumlah aturan main yang tidak mudah, seperti penetapan safe deposit dan ambang batas dana yang bisa diperoleh provider untuk operator tiap bulannya. Dengan demikian, ada semacam persyaratan bahwa bisnis provider konten bukan main-main. Kalau sekadar ikut-ikutan dengan menggelar undian tetapi hanya mengeruk pulsa pelanggan, kata dia, maka operator yang memiliki pelanggan tentu akan melindungi usernya cukup dengan menutup pintu.

Bisnis provider konten untuk ponsel masih terbuka lebar bagi Anda yang tertarik. Perkembangannya mengiringi penjualan handset ponsel di Indonesia. Hebatnya, pengguna ponsel di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan pengguna komputer, sehingga peluang provider konten untuk ponsel lebih terbuka.

Bisa mengkhususkan diri pada RBT, layanan pendidikan, info sehari-hari, entertainment, games dan banyak lagi. Seperti bisnis jasa lainnya, ada sejumlah kejutan yang muncul dari bisnis provider. Rasmo menunjuk bahwa RBT yang melibatkan nama Tukul Arwana dan eksklusif untuk pelanggan Telkomsel, sempat ‘meledak’ dan memberikan banyak keuntungan bagi provider yang memegang hak ciptanya.

“Tak Cuma Tukul, banyak band yang bisa mengumpulkan aktivasi RBT hingga 1 juta pelanggan. Akibatnya, ramai-ramai provider menggeluti RBT, yang sekarang ini memang primadona,” tutur Rasmo menutup perbincangan.(mobetrix)


www.klikp21.com@2009 | Best Viewer By Mozilla Firefox

Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Heri di heri@staff.klikp21.com,
Telp 021 55782519
 

Game

27/05/2010
Cara Ampuh Basmi Virus Komputer

article thumbnail

JAKARTA - Jika komputer terlanjur terinfeksi virus Conficker yang kini momok bagi pengguna komputer di seluruh dunia, tak perlu khawatir. Anda tak sen [ ... ]


Lainnya

Alamat Redaksi

BANTEN PORTAL MULTIMEDIA
Tangerang City, Ruko Blok E No.19
Tangerang Banten 15000
Telp. 021 - 55782519
fax. 021 - 55782466
redaksi@staff.klikp21.com